Setyo Nugroho

Guru di SMP Negeri 3 Kalikajar, Wonosobo, Jateng. Memulai belajar menulis untuk kebermaknaan diri dan sesama....

Selengkapnya

Faldi Nasibmu Kini

Dia bernama Faldi Junaedi (bukan nama sebenarnya), saat ini usianya sudah 16 tahun. Namun demikian, dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP. Melihat usianya, paling tidak dia sudah duduk di kelas XI tingkat SMA atau SMK sehingga ada selisih usia tiga tahun andai dia lancar dalam pendidikannya. Belakangan diketahui, dia penah tidak naik kelas saat di SD pada kelas IV, kelas V, dan kelas VII di SMP.

Kemampuan akademik menjadi alasan mengapa dia tidak naik kelas. Untuk kemampuan dasar seperti membaca dan menghitung, dia masih kesulitan. Membaca belum lancar dan menghitung masih keteteran sehingga menjadi bahan bully-an teman-temannya. Lalu timbul pertanyaan mengapa dia bisa naik kelas? Ternyata, dia anak yang rajin, walapun tidak mampu dalam hal akademik, dia tetap berangkat ke sekolah. Itu salah satu kelebihan yang dimilikinya. Satu tahun tinggal kelas, tahun berikutnya naik kelas karena perilakunya baik, walaupun kemampuan akademiknya rendah atau dengan bahasa lugas dan jujur, dia naik kelas karena kasihan kalau tidak dinaikkan.

Faldi terlahir dengan fisik sempurna seperti teman-teman lainnya, dia bukan termasuk anak yang berkebutuhan khusus. Kendala utamanya adalah kecerdasan yang masih rendah sehingga kesulitan dalam pembelajaran. Di kelas, dia tidak dianggap kehadirannya, setiap hari hanya datang, duduk, lalu pulang tanpa dapat apa-apa. Untuk memerlancar pembelajaran, guru pun mengabaikannya. Sungguh kasihan, padahal dalam sistem pendidikan nasional, disyaratkan semua siswa mempunyai hak yang sama dalam hal pendidikan.

Untuk mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan kemampuan, pemerintah menyediakan pendidikan inklusi. Model pendidikan yang diperuntukkan bagi siswa-siswa berkebutuhan khusus. Pendidikan ini dilaksanakan pada sekolah khusus dan ada pula yang menginduk pada sekolah reguler. Kalau begitu, masukkan saja Faldi ke sekolah inklusi, mudah bukan, selesai masalahnya. Bagaimana kalau dimasukkan dalam pendidikan inklusi ini? Menurut penulis, kurang tepat karena dia sekali lagi bukan anak yang berkebutuhan khusus dan dia belum tentu mau sekolah di sekolah inklusi ini dengan berbagai alasan yang tentu masuk akal.

Solusi terbaik adalah adanya perlakuan khusus yang diberikan. Perlakuan khusus itu diwujudkan dengan adanya kerjasama orang tua dan sekolah secara umum. Di rumah menjadi tanggung jawab penuh orang tua, bisa dengan latihan sederhana cara membaca dan menghitung dibantu oleh orang tua atau keluarga. Berjalan atau tidak tinggal kepedulian orang tua terhadap pendidikan anaknya. Di sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah dengan dibantu oleh wali kelas, guru mata pelajaran, dan guru bimbingan konseling. Berjalan atau tidak tergantung kepada program dan perencanaan yang dilakukan oleh sekolah.

Dengan alasan jumlah siswa dengan kondisi seperti Faldi yang sedikit, bisa jadi dia tidak diperhatikan. Sekolah akan fokus pada siswa-siswa dengan kemampuan standard. Kalau pun boleh, sebenarnya Faldi dikeluarkan saja agar tidak menyusahkan. Kepedulian sekolah ada saat awal-awal program atau perencanaan. Setelah itu, dia dilupakan lagi. Dengan logika berpikir, siapa guru yang mau setiap hari hanya mengajarkan membaca dan menghitung untuk anak tingkat SMP. Dibutuhkan guru dengan kepedulian tinggi, berani berkorban waktu, tenaga, dan pikiran, bahkan mungkin berani dicemooh teman sendiri.

Apa yang terjadi saat ini? Untuk memudahkan guru dalam penilaian dan agar tidak timbul permasalahan, akhirnya, guru langsung memberikan nilai sesuai dengan KKM untuk bisa tuntas belajar, yang sejatinya dia tidak tuntas sama sekali dan tidak tahu apa-apa. dengan hanya pertimbangan karena rajin berangkat sekolah.

Dari pojok kantor guru di meja kerjaku. 9 Mei 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Jika belum bisa pintar, jadilah dulu anak baik.

10 May
Balas

Bolehlah kalau begitu, makasih suport dan atensinya.

10 May

Hayo....murid siapa itu

09 May
Balas

Yang jelas murid gurunya, Bu.

09 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali