Setyo Nugroho

Bertugas sebagai guru di SMP Negeri 3 Kalikajar, Wonosobo, Jateng. Pernah belajar di pascasarjana pada program magister jurusan pendidikan bahasa dan sastra Ind...

Selengkapnya
PULANG

PULANG

Ketika mendengar kata pulang, semua terasa menyenangkan. Artinya sudah terselesaikan, sudah diakhiri, sudah bebas sehingga sangat ringan tak terlukiskan. Di depan mata telah terbayang perjalanan menuju rumah, bertemu dengan isteri terkasih dan anak tersayang, makan bersama, nonton televisi, bercanda riang, dilanjutkan berjalan-jalan. Siapa yang tidak suka!

Ketika masih sekolah dahulu saat jam terakhir, ada yang bertanya pada anak yang memakai jam tangan “Kurang berapa menit lagi?” Seakan sudah tidak tahan untuk segera pulang. Ini bukan karena jenuh dengan pelajaran di jam terakhir itu, tetapi karena murni dalam hati memang ingin segera pulang. Hal ini terjadi karena bayangan kebebasan yang ditunggu selalu dipikirkan.

Ketika mengikuti kegiatan seminar atau diklat baik dilakukan di dalam kota atau di luar kota yang dibayangkan hari terakhir kegiatan itu. Karena hari terakhir merupakan hari yang menyenangkan. Di hari itu akan mendapatkan sertifikat, uang saku, dan tentu saja akan segera kembali pulang. Padahal kalau dipikir, tempat pelatihannya di hotel berbintang dengan fasilitas lebih lengkap dan lebih bagus dibanding dengan di rumah. Tetap saja kembali pulang merupakan hal yang sangat diinginkan.

Pada kesempatan lain, pernah melihat pada pabrik di sekitar rumah. Ketika sirine berbunyi tanda berakhirnya pekerjaan. Semua karyawan berlari berhamburan tanpa peduli teman, keluar pabrik dengan sangat senang. Tujuannya hanya satu, cepat pulang untuk segera bertemu dengan keluarga. Sangat wajar, dengan pekerjaan yang berat selama berjam-jam membuat mereka ingin kebebasan.

Fenomena itu sama, saat mendekati waktu lebaran. Semua dipersiapkan untuk pulang kampung. Mereka bekerja bertahun-tahun di tanah rantau untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Bekerja keras membanting tulang, tak ingat waktu baik siang atau malam. Waktu yang ada hanya untuk bekerja dan terus bekerja. Mereka tak lupa menyisihkan sebagian pendapatan untuk pulang.

Pulang kampung atau mudik dengan segala resiko yang akan dijalankan, mereka tempuh dengan hati yang senang. Dengan berbagi kendaraan mereka pulang, ada dengan pesawat terbang, kereta api, mobil, sepeda motor, bahkan ada yang memakai becak atau bemo dalam jarak yang tak wajar. Macet menjadi menu utama yang sulit dihindarkan, stess pasti, lelah sudah jadi keharusan. Toh mereka tetap melakukan, bahkan dengan senang hati. Perlu diingat bahwa faktor kematian tertinggi di Indonesia terjadi karena kecelakaan di jalan raya. Bukan penyakit kronis seperti jantung, kanker, atau aids yang menakutkan. Tapi mereka tidak gentar, mereka tetap ingin pulang.

Secara hakiki, arti pulang merupakan proses kembali kepada yang memiliki. Anak sekolah, guru, karyawan pabrik, dan orang rantau menginginkan pulang karena ingin kembali kepada keluarga dan lingkungan tempat mereka hidup dan dilahirkan. Mengapa mereka ingin pulang? karena di rumah menyenangkan, ada kebebasan, tidak ada beban, dan merupakan tempat hiburan yang dinantikan. Artinya, pulang dalam pengertian ini, merupakan pulang yang dinantikan dan sangat menyenangkan.

Lebih jauh lagi sejatinya, pulang merupakan hakikat hidup kembalinya manusia kepada Sang Pencipta. Kalau ini dijamin akan banyak yang menghindar, mereka tak ingin pulang dengan dalih persiapan yang belum cukup, amal perbuatan yang masih penuh kemaksiatan, atau benar-benar takut azab di hari kemudian. Kalau pun boleh, mereka tak ingin kembali. Keinginannya merasakan kepuasan duniawi selamanya. Padahal jelas dalam Q.S Al Anbiya 34 disebutkan: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

Kita mencoba merenungkan, tanpa niatan menggurui atau bahkan menceramahi. Ini hanya untuk introspeksi diri dan niatan saling mengingatkan. Betapa mulianya orang yang telah mampu merasakan senang akan pulang kepada Sang Pencipta. Pulang pada Tuhan seperti pulangnya orang-orang di dunia ini setelah selesainya kegiatan atau pekerjaan.

Sebaik-baiknya rindu adalah rindu pada Allah dan Rosul-Nya. Dengan terus tingkatkan kualitas diri, istiqomah dalam ibadah, dapat menata hati, terus belajar, menghindari kemaksiatan, selalu berbuat kebaikan dalam keadaan sempit dan lapang dapat menjadi modal pertemuan kembalinya kita pulang nanti.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Memang nyaman kembali bersama orang-orang tercinta

10 Jun
Balas

Setuju Bu, makasih telah mampir dan makasih atensinya.

10 Jun

Nuwunsewu Pak Setyo koreksi itu Surat Al Anbiya ayat 35, nuwun.

10 Jun
Balas

Makasih koreksinya Pak Hari, salam kenal.

10 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali